Umar dan Baitul Maqdis

Ketika akan memasuki Baitul Maqdis, akan disambut oleh pembesar Romawi dan masyarakat banyak, Umar disarankan mengganti pakaianya dengan yang mewah, mengganti ontanya dengan kuda yang gagah, Umar tidak mau bahkan marah seraya mengatakan, “ Kita adalah kaum yang diberikan kemuliaan oleh Allah dengan Islam. Bila kami mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita”.

Suatu kalimat yang mengandung nilai-nilai keimanan yang sempurna, ketakwaan yang tinggi, akhlak yang agung, yang tidak sembarang orang mampu mengucapkan kalimat yang tegas tersebut, apalagi di zaman sekarang, bujukan meterialis dan kapitalis sangat menggoda.

Umar paham dan tahu bahwa kemuliaan seorang muslim disisi Allah bukan terletak pada pakaian yang indah, rumah yang mewah, harta yang melimpah, memiliki banyak sawah, makanan yang berkuah, sekali lagi bukan itu ! Mulianya seorang muslim disisi Allah terletak pada ketakwaannya, sikap rela sepenuh hati dan mengamalkan secara sempurna ajaran yang mulia (Islam) yang bersumber dari Dzat Yang Maha Mulia, Allah Yang Maha Agung. Continue reading

Advertisements

Manajemen Informasi

Informasi. Sebuah kata yang tidak terlalu memancing perhatian banyak orang karena tidak terlihat bombaptis. Lain halnya dengan kata “revolusi”, “Jihad” “kudeta”, “krisis” dan sebagainya. Informasi berasal dari bahasa Inggris yakni, information. Dalam bahas Arab disebut dengan : ma’lumat.

Para pelaku bisnis misalnya, berusaha menguasai informasi baik melalu iklan produk atau jasa yang mereka tawarkan ke pasar maupun melalui penguasaan media sebagai sumber dan alat penyebar informasi itu sendiri. Tak jarang, informasi produk dagang tertentu dibuat sedemikian rupa, apalagi dengan kemasan multimedia, sehingga terkesan “bohong” yang tidak disadari kebanyakan pembaca atau pemirsanya. Korban iklanpun berjatuhan.

Para politisi dan pengiuasa juga berupaya menguasai sumber-sumber informasi yang akan membentuk opini masyarakat sehingga berbagai aktivitas politik dan jalannya kekuasaan mereka terkesan baik dan bersih. Penguasa yang menguasai informasi bisa dengan mudah membalikkan fakta apa yang sesunguhnya mereka lalukan. Kita masih ingat betapa istilah Bapak Pembangunan bagi mendiang Presiden soeharto begitu melekat dalam benak masyarakat di zaman Orde Baru. Berbagai kejahatan yang dilakukan rezim di zaman itu nyaris tidak terungkap ke permuakaan kecuali setelah dipaksa lengser oleh rakyat Mei 1998. Continue reading

Kriteria Kedua Masyarakat Jahiliyah

Muhammad Quthb hafidzhohullah, adik kandung asy-Syahid Sayyid Quthb rahimahullah, menyebut dunia modern sebagai jahiliyah abad 20 atau jahiliyah modern. Menurutnya “jahiliyah” bukan hanya keadaan di jazirah Arab pada masa awal diutusnya Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Jahiliyah merupakan sifat yang mungkin berlaku bagi masyarakat manapun di zaman kapanpun bila memenuhi setidaknya empat kriteria.

Pada tulisan terdahulu kita telah membahas kriteria pertama yaitu tidak adanya iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala. Yaitu, sikap yang membuktikan kesatuan antara akidah dan syariat tanpa pemisahan.

Ciri kedua suatu masyarakat jahiliyah adalah tidak adanya pelaksanaan hukum menurut apa yang telah diturunkan Allah ta’aala, yang berarti menuruti “hawa nafsu” manusia. Padahal jelas di dalam Al-Qur’an Allah ta’aala perintahkan manusia untuk menegakkan hukum berdasarkan apa yang telah diwahyukanNya. Bila hal ini dilanggar berarti masyarakat tersebut telah menegakkan hukum berdasarkan hawa nafsu manusia bukan mengikuti arahan petunjuk ilahi. Dan sikap seperti itu menjadi indikasi bahwa mereka cenderung memilih hukum jahiliyah daripada hukum Allah ta’aala. Maka masyarakat semacam itu pantas dijuluki sebagai masyarakat jahiliyah. Continue reading

Menyesal Tidak menjadi Muslim

Kaum kafir alias non-muslim ketika sudah memasuki kehidupan di akhirat akan menyesal mengapa mereka tidak menjadi muslim sewaktu masih hidup di dunia. Suatu penyesalan yang tentunya tiada berguna. Ketika di dunia, mereka mengira bahwa menjadi muslim berarti harus menjadi terhina sebagaimana banyak dialami bangsa muslim dewasa ini. Mereka sangat bangga menjadi orang kafir sebab mereka melihat bahwa kebanyakan negeri-negeri maju dewasa ini justru dipimpin dan didominasi oleh kaum non-muslim alias kafir. Mereka sangat tersilaukan oleh berbagai kemajuan material yang diraih oleh negeri-negeri seperti Amerika, Inggris, Perancis, Jepang, Jerman bahkan Israel.

Sebaliknya mereka sangat kecewa bahkan jijik melihat kaum muslimin di negeri-negeri terbelakang seperti Bangladesh, Afghanistan, Nigeria dan Indonesia. Mereka mengira bahwa status formal keagamaan bangsa-bangsa tersebut-lah yang menyebabkan mereka menjadi terbelakang dan terhina di dunia. Mereka kaitkan antara dominasi agama yang dianut bangsa tersebut dengan ketertinggalan yang mereka alami. Sehingga mereka segera menyimpulkan bahwa Islam adalah agama yang menyebabkan keterbelakangan dan kehinaan sedangkan agama-agama di luar Islam, entah itu Nasrani, Yahudi bahkan Shinto merupakan agama yang menyebabkan kemajuan dan kemuliaan manusia di dunia. Continue reading

Bush dan Kaum Pagan

Bush sengaja mengakhiri perang pada 1 Mei 2003. Dalam tradisi pagan kuno, tanggal itu dikenal sebagai Beltane atau Malam Walpurgis. Nama tersebut berasal dari Saint Walpurga, Dewi Kesuburan Kaum Pagan. Dahulu, setiap tanggal 20 Maret hingga 1 Mei, kaum pagan menggelar ritual menumpahkan darah bagi bumi untuk kesuburan.

Zionis-Yahudi dengan segala hegemoninya atas dunia, dan menunggangi Amerika Serikat sebagai kapal induk baginya merupakan pewaris paganisme dunia purba. Pengikut iblis yang dahulu dikenal sebagai The Brotherhood of Snake, Samiri Cabal (di masa Musa a.s.), Sanhendrin Cabal (di masa Isa a.s.), Biarawan Sion, Knight Templar, Freemasonry, Theosofie, dan berbagai nama sekarang ini, Bilderberger, CFR, Club of Rome, IMF, World Bank, The Federal Reserve, dan sebagainya, mengejawantah dan menyatukan diri di dalam kelompok Zionis Dunia. Continue reading

Mengenang Pembantaian Muslim Srebrenica

Pembantaian warga Muslim Bosnia oleh pasukan Serbia selama perang Balkan yang berlangsung pada tahun 1992-1995 oleh dunia disebut sebagai kejahatan perang terburuk di Eropa setelah Perang Dunia II. Lebih 200.000 Muslim Bosnia menjadi korban kekejaman pasukan Serbia selama peperangan berlangsung, dan sekitar 20.000 muslimah menjadi korban perkosaan yang dilakukan secara sistematis oleh pasukan Serbia.

Salah satu tragedi mengenaskan adalah perisiwa pembantaian 8.000 lelaki dan remaja Muslim di di Srebrenica. Pembantaian itu terjadi karena ketidakmampuan pasukan Belanda yang diberi mandat PBB untuk menjaga kamp pengungsi di Srebrenica. Setelah pasukan Serbia berhasil menguasai Srebrenica, mereka mulai memisahkan laki-laki berusia 12-77 tahun untuk diinterogasi, yang sebenarnya awal dari pembantaian terhadap warga Muslim. Selama lima hari, pasukan Serbia dipimpin Jenderal Ratko Mladic dengan bantuan pasukan paramiliter Serbia yang dikenak sebagai pasukan Scorpion, dan dengan leluasa melakukan pembantaian terhadap lelaki dewasa dan anak-anak lelaki Muslim. Continue reading

Regenerasi Kepemimpinan

Masalah regenerasi kepemimpinan menjadi topik kontroversial di negeri ini. Hal itu terlihat dalam perdebatan tentang batas usia pensiun untuk Hakim Agung dan desakan masyarakat Yogyakarta untuk menetapkan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Gubernur seumur hidup sesuai dengan keistimewaan daerahnya. Bahkan, Partai pewaris Orde Baru, Golongan Karya (Golkar), ikut kerepotan mengontrol tuntutan regenerasi dari berbagai daerah.

Dalam artikel di harian Republika tentang Keharusan Regenerasi Kepemimpinan (20/8/2008), penulis menegaskan regenerasi sebagai keniscayaan alami (sunnatullah) dan kemestian sosial-politik agar masyarakat berkembang lebih berkualitas. Tanpa regenerasi terencana, masyarakat akan mengalami kejumudan dan terancam kehancuran dari dalam. Potensi positif dibungkam, inisiatif perubahan dan perbaikan dipandang sebagai bid’ah dan pemberontakan terhadap sistem mapan. Padahal, segelintir kelompok bercokol merancang perubahan sesuai dengan kepentingan sempitnya, mewariskan kekuasaan kepada anak-cucu atau kroninya. Continue reading