Al Biruni (Bagian 2)

Meninggalkan Negara

Kerajaan Khawarizmi, tempat Al-Biruni menetap secara politis tunduk kepada kerajaan As-Samaniah. Sebagaimana kerajaan Zayariah yang terletak di sebelah utara Laut Qezwin. Kesultanan As-Samaniah berada di Bukhoro. Raja Nuh Ibnu Manshur As-Samaniah posisinya sangat mantap. Tak seorang raja pun berani menentang. Tetapi pernah pula mendapat pemberontakan dari suatu kelompok dengan memakai politik devide et empera.

Situasi dan kehidupan politik tidak menjadi minat Abu Raihan. Ia selalu sibuk membuat berbagai percobaan. Ia persiapkan sebuah alat perbintangan berbentuk lingkaran besar. Garis tengah lingkaran tersebut lebih dari tujuh meter, dibagi-bagi menjadi setengah derajad. Dengan alat tersebut ia hendak mengetahui letak geografis sebuah desa kecil yang terletak di antara kota Kats.

Suatu kali percobaan Al-Biruni terganggu. Sebab di kerajaannya meletus pemberontakan. Yakni antara penguasa Jurjani yang terletak di sebelah barat Sungai Amudarya dengan Amir bin Abu Abbas. Situasi demikian kacau, hingga AL-Biruni merasa harus menyelamatkan diri. Ia segera menengok sang ibu yang saat itu masih di kota Kats. Continue reading

Di Bodohi Pendidikan? Benarkah

Bukan maksud untuk menyimpang dari pembahasan yang telah ditentukan dalam blog ini, namun penulis hanya menyampaikan sesuatu yang berharga kepada masyarakat terutama umat islam dalam menempuh pendidikan di Indonesia. Karena secara sunnatullah umat islam diwajibkan mempunyai pengetahuan yang luas mengenai segala sesuatu. Bukan saja terhadap ilmu agama, tetapi juga terhadap ilmu dunia.

Tanpa sadar ternyata kita telah lama berkutat tentang sesuatu membohongi umat islam di Indonesia, mulai dari hari kebangkitan nasional yang mengambil hari berdirinya budi utomo, bukan dari berdirinya Sarikat islam yang berdiri 3 tahun sebelumnya, sampai dengan fatahillah yang katanya pembebas Batavia (betawi sekarang) yang sampai sekarang setiap tanggal 22 juni selalu diperingati. Continue reading

Al Biruni (Bagian 1)

Anak Yatim

Muhammad bin Ahmad, siapakah dia? Anak yatim yang biasa dipanggil ibunya, Abu Raihan. Mereka berdiam di daerah Biruni yang terletak di sekitar Kats, ibukota kerajaan Al-Khuzamah. Negara ini terbentang di Asia Tengah. Sebelah selatan dibatasi Laut Aral dan sebelah utara dibatasi Laut Qezwin. Kats ibukota yang telah kita sebut tadi berada di sebelah utara Sungai Jijun(sekarang Amudarya). Di dalamnya terdapat banyak bangunan yang mengagumkan; istana, masjid-masjid, dan berbagai pusat kegiatan keagamaan berdiri megah di sana.

Muhammad bin Ahmad atau Abu Raihan bersama ibunya berada di kota Biruni, suatu kota yang panas. Para pedagang lokal banyak pula bermukim di sini,juga para pedagang dari Cina, India, Yunani, serta Arab. Mereka lebih memilih kota Biruni sebagai kawasan dagang untuk menghindari pajak. Sebab di kota Kats setiap yang masuk membawa dagangan akan dikenai pajak yang sangat memberatkan mereka. Continue reading

Segala Urusan Hanya Milik Allah

“Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innaa lillahi wa innaa ilahi raaji’uun’, mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2] ; 156-157).

Keimanan dan ketakwaan, itulah dua hal yang akan membawa manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Keimanan diperlukan agar keyakinan kita kepada Allah SWT menjadi bulat dan benar-benar yakin. Yakin akan ciptaan-Nya, yakin akan sunnah-Nya, yakin dengan segala apa yang telah ditentukan oleh-Nya. Dengan keyakinan, seorang manusia tidak akan pernah merasa risau, galau, gundah gulana, tetapi kehidupannya akan senantiasa diliputi ketenangan walaupun masalah menderanya. “Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” Sedangkan ketakwaaan, diperlukan oleh manusia untuk memperoleh keridhaan-Nya dan derajat dirir kita disisi-Nya. Dalam kehidupan manusia, dua hal ini tidak bisa dilepaskan dala diri manusia, walaupun manusia ada yang serius untuk memperolehnya dan mempertahankannya, ada yag berleha-leha dalam mendapatkannya bahkan ada yang tidak pernah mau akan dua hal itu. Continue reading

Amanah dan Jujur

“Amanah akan menghantarkan seseorang kepada kekayaan, sedangkan khianat akan mendatangkan kefakiran” ( Al-hadist)

Allah memerintahkan kita melaksanakan amanah baik dalam arti sempit maupun luas. Sebagai orang muslim yang beriman kita memiliki amanah, diantaranya berhidmat terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya. “Manusia yang paling baik adalah yang paling memberikan manfaat bagi yang lainnya”., begitulah sabda Rasulullah. Oleh karena itu siapa pun kita, di manapun kita, dalam kondisi apapun kita tetap harus memberi manfaat kepada orang lain. Apakah lagi jika kita memiliki kedudukan atau jabatan yang mempengaruhi hajat hidup orang lain, maka amanah dalam diri kita semakin banyak. Selain itu, sikap, dan prilaku kita akan memiliki dampak terhadap orang lain, dan seharusnya lebih banyak memberi manfaat kepada mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah di atas, amanah dapat dapat mendatangkan kekayaan bagi seseorang, maka kita akan menjadi orang kaya bila mampu melaksanakan amanah yang kita emban. Namun, kekayaaan disini tidaklah bersifat materialistik berupa tumpukan harta, tetapi kekayaan jia dari rahmat Allah. Oleh karena itu, mungkin saja Allah telah mencbaut rahmat dari bangsa kita sehingga sampai kini krisis demi krisis melanda negeri ini. Continue reading

Ciri Hamba Pilihan

Inilah sifat mereka. Ketika orang-orang bodoh melontarkan ucapan buruk, mereka tidak membalas dengan ucapan yang sama, namun mema’afkan. Senantiasa berkata yang baik, tidak terprovokasi oleh kejahilan orang tersebut.

‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar Rahman sejati). Sosok-sosok pilihan, pribadi dambaan. Mereka dilansir secara tersendiri dalam lembaran-lembaran firman Allah subhanahu wata’ala. Merekalah yang mendapat pujian khusus dari-Nya.

Lalu bagaimana dengan karakteristik hamba-hamba yang memiliki kedudukan mulia tersebut? Ikuti sajian yang berikut! Di antara sifat dan karakter yang melekat pada mereka Continue reading

Asma’ binti Yazid Bin Sakan (Orator Para Wanita)

Beliau adalah Asma` binti Yazid bin Sakan bin Rafi` bin Imri`il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris al-Anshariyysh, al-Ausiyyah al-Asyhaliyah.

Beliau adalah seorang ahli hadis yang mulia, seorang mujahidah yang agung, memiliki kecerdasan, dien yang bagus dan ahli argumen, sehingga beliau menjuluki sebagai “juru bicara wanita”.

Diantara keistimewaan yang dimiliki oleh Asma` adalah kepekaan inderanya dan kejelian perasaannya serta kehalusan hatinya. Selebihnya dalam segala sifat sebagaimana yang dimiliki oleh wanita-wanita Islam yang lain yang telah lulus dari madrasah nubuwwah yakni tidak terlalu lunak (manja) dalam berbicara, tidak merasa hina, tidak mau dianiaya dan dihina, bahkan beliau adalah seorang wanita yang pemberani, tegar dan mujahidah. Beliau menjadi contoh yang baik dalam banyak medan peperangan. Continue reading