Amanah dan Jujur

“Amanah akan menghantarkan seseorang kepada kekayaan, sedangkan khianat akan mendatangkan kefakiran” ( Al-hadist)

Allah memerintahkan kita melaksanakan amanah baik dalam arti sempit maupun luas. Sebagai orang muslim yang beriman kita memiliki amanah, diantaranya berhidmat terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya. “Manusia yang paling baik adalah yang paling memberikan manfaat bagi yang lainnya”., begitulah sabda Rasulullah. Oleh karena itu siapa pun kita, di manapun kita, dalam kondisi apapun kita tetap harus memberi manfaat kepada orang lain. Apakah lagi jika kita memiliki kedudukan atau jabatan yang mempengaruhi hajat hidup orang lain, maka amanah dalam diri kita semakin banyak. Selain itu, sikap, dan prilaku kita akan memiliki dampak terhadap orang lain, dan seharusnya lebih banyak memberi manfaat kepada mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah di atas, amanah dapat dapat mendatangkan kekayaan bagi seseorang, maka kita akan menjadi orang kaya bila mampu melaksanakan amanah yang kita emban. Namun, kekayaaan disini tidaklah bersifat materialistik berupa tumpukan harta, tetapi kekayaan jia dari rahmat Allah. Oleh karena itu, mungkin saja Allah telah mencbaut rahmat dari bangsa kita sehingga sampai kini krisis demi krisis melanda negeri ini.

Selain harus mampu melaksanakan amanah sesuai posisi dan fungsi, kita harus bersikap jujur. Sikap jujur adalah upaya melakukan sesuatu atau menyampaikan sesuatu sesuai yangg sebenarnya. Artinya jika kita jujur, kita akan melakukan sesuatu yang benar, dengan cara atau tahapan benar, untuk tujuan yang benar, dan dasar yang benar. “ Janganlah engkau melihat kualitas diri seseorang itu dari panjang rukuk dan sujudnya, tetapi lihatlah dari kejujuran dan kesetiaan dalam menjalankan amanah”, demikian nasihat Imam Ja’far Ash-Shadiq. Hal ini sesuai dengan surah An-Nisa ayat 69, yang artinya : “ Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shadiqin (orang-orang jujur dan mencintai kebenaran), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shaleh. Dan mereka itu teman sebaik-baiknya”.

Sekarang, sudahkah kita memiliki komitmen melaksanakan amanah dan besikap serta berkata jujur? Jika sudah mari kita ajak keluarga kita, teman-teman kita, para atasan kita, para ustadz (murobbi) kita, para pemimpin dan wakil di pemerintahan kita untuk melaksanakan amanah yang diemban dan untuk bersikap serta berkata jujur. Sebagai pribadi kita harus melaksanakan amanah Allah utnuk mengosongkan diri dari kemaksiatan, mengisi dengan iman dan ilmu, dan menghiasi dengan akhlak mulia. Kita juga usahakan agar keluarga kita memiliki kecerdasan aqliyah, kekokohan aqidah, dan keistiqamahan amaliyah. Setelah itu mari kita mendemonstrasikan akhlak mulia secara kolektif agar menjadi people power (kekuatan rakyat) dan gerakan oposisi untuk menekan para pemimpin dan wakil kita di pemerintahan dan DPR agar berakhlak mulia, berpikiran cerdas dan dewasa, bersikap adil dan bijaksana, serta segera menepati janji dan melaksanakan amanah dalam menyejahterkan rakyat. Kita tidak butuh perdebatan yang emosional dan tidak cerdas dalam upaya membela rakyat seperti yang telah lalu.

Namun kita tidak boleh putus asa dan harus yakin bahwa kualitas para pemimpin di pemerintahan dan wakil di DPR adalah gambaran kualitas masyarakat kita yang belum berkualitas secara kolektif. Dengan demikian kita kaum muslim yang mayoritas harus peduli perkembangan politik dan harus mampu memilih pemimpin dan wakil rakyat yang beraqidah kuaat, berpikiran cerdas, berakhlak mulia, bersikap adil dan mau melaksanakan amanah, serta jujur dalam berucap dan bertindak. Begitu pula jika Allah memberi amanah kepada kita untuk berkuasa atau memimpin bangsa, Allah memerintahkan kita bersikap adil, mengayomi, dan melindungi orang-orang tertindas dan minoritas, siapa pun orangnya. Sekarang, dalam menyikapi kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, kita sarankan kepada wakil kita di DPR: bersikaplah proaktif; janganlah melakukan tindakan yang akan menyengsarakan diri seperti mogok makan atau membakar diri, dsb. “…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”, begitu perintah Allah dalam Al-Quran (QS.2:195); Selain itu laksanakanlah perintah: “Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian jika kamu telah membulatkan tekad maka bertakwalah kepada Allah”. Jika belum berhasil juga, Allah telah menganugerahi kita akal untuk berpikir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: