Tiga Kenikmatan Hidup

Setiap manusia, apalagi sebagai muslim kita tentu mendambakan kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, bahkan kalau perlu seolah-olah dunia ini menjadi milik kita. Untuk bisa merasakan kehikmatan hidup di dunia ini, ada tiga perkara yang harus dicapai oleh seorang muslim, hal ini disebutkan dalam hadits Nabi:

Barangsiapa yang di pagi hari sehat badannya, tenang jiwanya dan dia mempunyai makanan di hari itu, maka seolah-olah dunia ini dikaruniakan kepadanya (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Untuk memahami lebih dalam tentang apa yang dimaksud oleh Rasulullah Saw, hadits di atas perlu kita pahami dengan baik. Continue reading

Advertisements

Adil

Adil artinya komitmen dengan segala bentuk tuntutan syar’i, baik yang masuk kategori wajib ataupun yang “hanya bernilai sunnat”. Juga komitmen dalam menjaga dirinya dari segala bentuk kemaksiatan, baik yang berkonotasi haram ataupun makruh secara syar’i, ataupun yang berkonotasi syubhat.

Dalam ilmu hadits, yang dinamakan hadits shahih adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang adil, sempurna daya hafalnya, bersambung sanadnya, tidak terdapat syudzudz dan tidak terdapat pula illat (cacat) yang merusak.

Bila suatu hadits memenuhi lima persyaratan ini, maka hadits itu disebut sebagai hadits shahih. Bila kelima persyaratan ini tidak terpenuhi, maka hadits itu dinamakan hadits dha’if (lemah). Dan selanjutnya ia masuk kategori mardud, alias ditolak dan tidak bisa diterima.

Dengan persyaratan seperti ini, tidak mudah bagi seorang ulama’ dan pakar hadits sekalipun untuk mengatakan bahwa suatu hadits tertentu bisa dinilai sebagai hadits shahih, sebab, untuk membuat satu kesimpulan terhadap nilai suatu hadits, seorang ulama’ mesti membongkar gudang perpustakaannya, dan mengecek satu persatu aspek terpenuhinya lima persyaratan di atas. Continue reading

Al Biruni (Bagian 4)

Baju Kebesaran Khalifah

Sampai pula waktunya Al-Biruni benar-benar terlibat dalam masalah politik. Bermula dari Al-Amir Al-Ma’mun mengadakan perkawinan dengan saudara perempuan Sultan Mahmud Al-Ghaznawi. Dia adalah pewaris tahta kerajaan As-Samaniah dan pendiri Ghaznawiyah. Berkat hubungan perkawinan ini, Al-Ma’mun berusaha membatasi kekuasaan agar kerajaan Khawarizmi yang ia pimpin tidak tunduk kepada kerajaan Ghaznawi baru (sekarang Kabul) bila suatu ketika terjadi penekanan.

Pada tahun 1014 M, Khalifah Al-Qadir Al-Abasi Al-Ma’mun di Bagdad menganugerahkan gelar syah (raja) kepada Al-Ma’mun. tentu saja anugerah dari pemerintah pusat tersebut membaggakan Al-Ma’mun. Namun di balik itu terselib juga rasa was-was akan akibat gelar yang ia sandang. Kemungkinan akan terjadi iri hati dari pihak Sultan Mahmud Al-Ghaznawi, iparnya.

Secara diam-diam Al-Ma’mun mengutus Al-Biruni menemui utusan Khalifah sebelum sempat orang tersebut sampai padanya. Ia bermaksud melepaskan baju bersenjata secara terbuka. Dan akan membawanya kepada Sultan Mahmud agar ia menyetujui atas anugerah yang ia terima. Sehingga gelar syah (raja benar-benar dapat ia kenakan sebagaimana mestinya. Continue reading

Akhlak Seorang Pemimpin

Suatu masyarakat dan bangsa akan disebut sebagai masyarakat dan bangsa yang maju manakala memiliki peradaban yang tinggi dan akhlak yang mulia, meskipun dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi masih sangat sederhana. Sedangkan pada masyarakat dan bangsa yang meskipun kehidupannya dijalani dengan teknologi yang modern dan canggih, tapi tidak memiliki peradaban atau akhlak yang mulia, maka masyarakat dan bangsa itu disebut sebagai masyarakat dan bangsa yang terbelakang dan tidak menggapai kemajuan.

Untuk bisa merwujudkan masyarakat dan bangsa yang berakhlak mulia dengan peradaban yang tinggi, diperlukan pemimpin dengan akhlak yang mulia. Khalifah Abu Bakar Ash Shiddik ketika menyampaikan pidato pertamanya sebagai khalifah mengemukakan hal-hal yang mencerminkan bagaimana seharusnya akhlak seorang pemimpin. Dalam pidato itu beliau mengemukakan: “Wahai sekalian manusia, kalian telah sepakat memilihku sebagai khalifah untuk memimpinmu. Aku ini bukanlah yang terbaik diantara kamu, maka bila aku berlaku baik dalam melaksanakan tugasku, bantulah aku, tetapi bila aku bertindak salah, betulkanlah. Berlaku jujur adalah amanah, berlaku bohong adalah khianat. Siapa saja yang lemah diantaramu akan kuat bagiku sampai aku dapat mengembalikan hak-haknya, insya Allah. Siapa saja yang kuat diantaramu akan lemah berhadapan denganku sampai aku kembalikan hak orang lain yang dipegangnya, insya Allah. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila aku tidak taat lagi kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajibanmu untuk taat kepadaku.” Continue reading

Menjalani Zaman Penuh Fitnah

Zaman yang sedang kita jalani dewasa ini merupakan zaman sarat fitnah. Banyak pesan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengenai fitnah di akhir zaman yang sangat cocok menggambarkan zaman yang sedang kita lalui saat ini. Inilah zaman ketika giliran kemenangan di dunia bukan berada di fihak ummat Islam. Ini merupakan zaman di mana Allah subhaanahu wa ta’aala menguji orang-orang beriman. Siapa di antara mereka yang mengekor kepada orang-orang kafir, siapa di antara mereka yang emas imannya dan bahkan rela berjihad di jalan Allah subhaanahu wa ta’aala hingga meraih kemuliaan mati syahid.

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

”Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS Ali Imran 140)

Dalam ayat di atas Allah subhaanahu wa ta’aala menegaskan bahwa adakalanya ummat Islam memperoleh kemenangan dalam medan peperangan namun adakalanya kaum musyrikin-kuffar yang menang. Ini merupakan perkara biasa dalam kehidupan di dunia yang fana. Dunia merupakan tempat di mana segala keadaan berubah silih berganti, tidak ada yang tetap dan langgeng. Kadang manusia menang, kadang kalah. Kadang lapang, kadang sempit. Susah-senang, sehat-sakit, kaya-miskin, terang-gelap, siang-malam, berjaya-terpuruk semuanya silih berganti dan selalu bergiliran. Itulah dunia. Berbeda dengan di akhirat nanti. Manusia hanya punya satu dari dua pilihan keadaan. Pertama, ia mungkin hidup abadi dalam kesenangan hakiki di dalam surga Allah subhaanahu wa ta’aala. Atau sebaliknya, hidup kekal dalam penderitaan sejati di neraka Allah subhaanahu wa ta’aala. Continue reading

Al Biruni (Bagian 3)

Undangan Ke Jurjani

Sangat kerasan ia berada di kota Bukhara, berada dalam lingkungan pakar dan ilmuwan. Dengan banyak kerja sama dengan mereka dan tukar pikiran, kematangan otaknya, semakin meningkat. Demikian betah Al-Biruni berada di kota ini. Hingga suatu ketika ia mendapat tawaran untuk bekerja sama dengan Amir (pemimpin) Syamsul Ma’ali Qobus bin Wasykamir. Dia adalah seorang penguasa Az-Zayariyin, suatu kerajaan kecil yang berada di sebelah selatan Laut Qezwin.

Amir tersebut saat itu sedang terusir dari ibukota kerajaannya, Jurjani. Banyak kerajaan ketika itu saling bertikai, saling menumbangkan dan merebut wilayah kekuasaan. Demikian pula kiranya yang terjadi pada Az-Zayariyin. Angkatan bersenjata dalam kerajaan itu bergolak, membrontak terhadap amir Syamsul Ma’ali Qobus. Tentu saja sang Raja tidak tinggal diam. Ia mencari dukungan dari wilayah lain untuk mengusir para pemberontak. Dan satu kerajaan yang dapat diajak kerja sama untuk menumbangkan kekuasaan militer yang hendak meng-cup de’tat adalah Al-Manshur.

Sementara para ilmuwan yang berada di bawah lindungan Raja Al-Manshur demikian bersemangat mengembangkan berbagai penelitiannya. Tak terusik mereka akan berita-berita kekacauan berbagai kerajaan. Tetapi sebaliknya kehebatan mereka banyak diincar oleh para penguasa untuk mengembangkan pembangunan ilmu di negara-negaranya. Termasuk Al-Biruni dan Ibnu Sina yang saat itu telah demikian terkenal. Amir Syamsul Ma’ali Qobus berusaha membujuk agar mereka bersedia menetap di Jurjani. Mereka akan diberi fasilitas dan perlindungan. Tetapi sayang, permintaan Raja tersebut tidak dapat dipenuhi, sebab dua pakar itu telah berjanji kepada penduduk As-Samani untuk mempersembahkan buah-buah ilmunya. Tak kenal lelah mereka semakin giat mengkaji, mengamati, berdiskusi, berdialog, dan membuat tulisan-tulisan ilmiah, juga menulis buku-buku. Continue reading

Negeri Kita Dizalimi Iklan Menyesatkan

”Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara satu dengan yang lain. Sebab, seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain, tidak diperkenankan menzalimi, menipu, atau melecehkannya.” (HR Muslim).

Semakin hari, kezaliman itu semakin menjadi-jadi di negeri kita. Jika dibiarkan, aksesnya bisa membahayakan generasi muda mendatang, bahkan umat Islam umumnya. Televisi merupakan salah satu faktor yang membuat kezaliman itu tumbuh subur. Betapa tidak, tayangan-tayangan di televisi jarang sekali mengusung pesan yang mendidik. Contohnya, sinetron anak muda.

Sinetron tentang remaja sekarang yang ditampilkan penuh dengan gaya glamor dan menampilkan setting rumah-rumah mewah. Ini tidak cocok dengan realitas di Indonesia yang ditimpa krisis ekonomi di hampir semua sektor. Apalagi, gaya hidup hedonisme ala Barat seperti pacaran, ciuman, bahkan oleh remaja SMP. Masya Allah, mau jadi generasi muda nanti jika terus diracuni tayangan-tayangan seperti itu? Continue reading