Regenerasi Kepemimpinan

Masalah regenerasi kepemimpinan menjadi topik kontroversial di negeri ini. Hal itu terlihat dalam perdebatan tentang batas usia pensiun untuk Hakim Agung dan desakan masyarakat Yogyakarta untuk menetapkan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Gubernur seumur hidup sesuai dengan keistimewaan daerahnya. Bahkan, Partai pewaris Orde Baru, Golongan Karya (Golkar), ikut kerepotan mengontrol tuntutan regenerasi dari berbagai daerah.

Dalam artikel di harian Republika tentang Keharusan Regenerasi Kepemimpinan (20/8/2008), penulis menegaskan regenerasi sebagai keniscayaan alami (sunnatullah) dan kemestian sosial-politik agar masyarakat berkembang lebih berkualitas. Tanpa regenerasi terencana, masyarakat akan mengalami kejumudan dan terancam kehancuran dari dalam. Potensi positif dibungkam, inisiatif perubahan dan perbaikan dipandang sebagai bid’ah dan pemberontakan terhadap sistem mapan. Padahal, segelintir kelompok bercokol merancang perubahan sesuai dengan kepentingan sempitnya, mewariskan kekuasaan kepada anak-cucu atau kroninya. Continue reading