Wali Songo

Istilah “Walisongo” berasal dari dua kata, yaitu: “wali” (dari bahasa Arab) artinya yang menolong, yang mencintai; dan “songo” (dari bahasa jawa) artinya sembilan. Jadi “Walisongo” adalah sembilan orang yang menolong atau mencintai. Menolong apakah gerangan? Kesembilan orang ini rupanya tokoh yang paling berjasa dalam penyebaran Islam di Nusantara, khususnya di daerah Jawa.

Adapun kesembilan wali tersebut adalah: Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Mereka semua memiliki keterkaitan, baik hubungan kekeluargaan, persahabatan, atau pula hubungan guru-murid.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari pertengahan abad ke-13 hingga pertengahan abad 16 di tiga wilayah Pulau Jawa: Surabaya-Gresik-Lamongan (Jawa Timur), Demak-Kudus-Muria (Jawa Tengah), serta Cirebon (Jawa Barat). Meskipun kesembilan wali ini memusatkan pesantren dan dakwahnya di pesisir utara Pulau Jawa, tapi murid dan penerusnya telah membawa Islam ke seluruh penjuru Nusantara.

Walisongo telah banyak berjasa kepada kita yang hidup ratusan tahun sesudah mereka. Atas jasa merekalah kita banyak mengenal Islam. Mereka telah memperkenalkan warisan agama Islam yang cemerlang, mulai dari kesehatan, pertanian, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ilmu pemerintahan.

Sejarah perjuangan dan dakwah penyebaran Islam yang dilakukan oleh sembilan wali, atau yang dikenal dengan sebutan Walisongo, di sepanjang pesisir utara Jawa. Mereka telah banyak berjasa dalam memperkenalkan Islam kepada masyarakat Jawa khususnya, dan kepada masyarakat Nusantara pada umumnya.

Banyak sumber dan informasi tentang perjalanan dan kiprah mereka. Sumber-sumber informasi itu acap kali tidak sama dan sedikit simpang siur, terutama menyangkut tahun dan nama-nama. Hal ini tentu disebabkan karena pada masa mereka, pengarsipan dan pendataan masih sangat sederhana. Dan mungkin juga karena hanya berdasarkan cerita lisan semata dan hanya sedikit yang sempat dicatat dalam tulisan.

Termasuk pula kisah-kisah yang berkaitan dengan perjalanan, kiprah, dan peran, serta kesaktian dan kemahiran para wali itu. Nama, anggota, dan bahkan keberadaan sembilan wali itu pun masih ada pula yang memperdebatkannya.

%d bloggers like this: