Komentar Komisi VIII DPR Tentang Pembagian Zakat di Pasuruan

Komisi VIII DPR menyesalkan insiden pembagian zakat di Pasuruan, Jawa Timur yang membuat tewas 21 orang, karena seharusnya pembagian zakat itu dilaksanakan dengan tertib dan terkoordinasi.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Inilah risiko yang terjadi di Pasuruan kalau pemilik membagi sendiri secara terbuka. Itu kan bisa lebih terhindar dari bencana, kalau pemilik secara diam-diam membagikan, tidak demonstratif, ” ujar Ketua Komisi VIII DPR Hasrul Azwar, di Gedung DPR, Jakarta, Senin (15/9).

Menurutnya, mengundang orang yang sebagian besar masih berada dalam garis kemiskinan untuk menerima zakat, karena butuh, pada umumnya tidak peduli dengan risiko apa yang bakal terjadi, termasuk terinjak-injak.

“Saya menyesalkan seperti itu. Itu kan cara mengemasnya yang tidak cerdas. Kalau dia mengantar ke rumah kan nggak begitu. Dia (H Syaikon) kan orang mampu. Dia atau menyuruh pembantunya, antarlah pake amplop, “jelas Hasrul.

Ia mengatakan, jika pembagian zakat diumumkan pembagi zakat, maka penerima zakat bisa datang dari mana saja. Bahkan bisa berasal dari luar daerah pembagi zakat, yang di luar perkiraan.

Menurut Hasrul, zakat yang asalnya sebagai pembersih harta, karena cara yang tidak benar bisa menimbulkan bencana. Padahal insiden serupa pernah terjadi, baik dalam pembagian sembilan kebutuhan bahan pokok (sembako) maupun pembagian zakat, namun masih bisa terulang lagi.

Karena itu, Ia meminta agar pihak kepolisian mengusut tuntas kejadian yang menyebabkan 21 orang meninggal dunia. Dan, Pemerintah juga bisa melarang cara pembagian zakat yang berisiko itu.

“Saya sebagai pimpinan dan atas nama anggota Komisi VIII DPR turut berduka cita pada keluarga korban, ” tandas dia.

Sementara itu, Ketua MUI H. Amidhan meminta, agar kejadian ini dijadikan pelajaran berharga untuk menyerahkan pembagian zakat kepada organisasi yang profesional, untuk mengantisipasi dampak yang buruk.

Menurut dia, insiden Pasuran tersebut dapat membawa citra negatif dari lembaga zakat dan citra agama Islam. “Padahal itu maksudnya membangun kebersamaan. Tetapi karena cara tidak profesional justru menimbulkan dampak buruk, ” ujarnya. (novel)

Sumber : eramuslim.com

One Response

  1. 1. Bangsa kita makin miskin, padahal pemerintah bilang berhasil kurangi angka kemiskinan.
    2. Bangsa kita doyan rebutan dan desak2an, gak mau antri, dalam segala hal.
    3. Bangsa kita suka nyalahin dan nuduh orang lain riya’.
    4. Bazis cuma bisa nyalahin, padahal zakat sebaiknya dibagikan ke sekitar rumah dulu, buka dioper ke pelosok atau daerah lain, toh di sekitar ternyata banyak orang miskin, yang gak terjangkau oleh bazis. Sering zakat yang dikordinir dikorup atau salah sasaran. Daging korban dan BLT aja ditilep.

    “Mungkin masalahnya bangsa kita adalah bangsa pengemis. Yang bisanya meminta dari pada memberi. Atau karena sudah tidak bisa lagi mencari pekerjaan karena lowongan tidak ada? Tapi yang pasti moral rakyat dan pemimpin perlu dikoreksi. Jangan hanya saling menyalahkan saja. Gak malu apa sama tetangga”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: