Keluarga, Lembaga Pendidikan Pertama dan Utama

Allah SWT berfirman, “Ia (Zakariya) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai,” (QS Maryam [19]: 4-6).

Ayat ini menggambarkan kerinduan Nabi Zakaria as. untuk mendapatkan keturunan walaupun usia beliau sudah lanjut dan istrinya mandul. Kerinduan Nabi Zakaria akan anak tidak didorong untuk menghindari pupusnya garis keturunan, melainkan keinginan kuatnya agar nilai-nilai perjuangan yang dimiliki keluarganya dilanjutkan oleh anaknya.

Sikap yang sama juga tercermin pada diri Nabi Ibrahim as dan nabi-nabi lainnya. Hal ini bisa dilihat pada firman Allah Swt berikut ini, “(Ibrahim berkata), ‘ Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam’. Adakah kamu hadir ketika Ya’qaub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘ Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya’,” (QS Al-Baqarah [2]: 132-133).

Dalam ayat lain Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka (perbuatan yang akan mencelakakan) yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Juga firma-Nya dalam surat Thaha ayat 132, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya,” (QS At-Tahrim [66]: 6).

Ayat di atas menceritakan bahwa para Nabi Allah selalu berwasiat kepada anak keturunanya tentang siapa yang akan mereka sembah setelah mereka meninggal dunia. Ini memberikan pelajaran berharga bahwa keluarga mempuyai posisi yang sangat strategis dan menentukan dalam upaya pembentukan karakter sebuah generasi. Generasi yang baik pada umumnya lahir dari keluarga yang baik. Sebaliknya, dari keluarga yang rusak tidak banyak diharapkan munculnya generasi yang memiliki watak dan kepribadian yang baik dan bertanggung jawab pula.

Dalam membangun keluarga sebagai salah satu institusi pendidikan yang kuat dan mendasar, peran kedua orang tua sangat menentukan. Yaitu, terutama menjadi contoh dan suri teladan bagi anak-anaknya. Bahasa teladan dan amal perbuatan ternyata jauh lebih efektif daripada bahasa lisan serta suruhan yang bersifat verbal. Anak-anak melihat apa yang dilakukan, bukan semata-mata mendengar apa yang diperintahkan.

Dan terlebih lagi, akan sangat berbahaya bagi pembentukan karakter anak apabila selalu terjadi kontadiksi antara perkataan dengan perbuatan. Karena itu, keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama dalam membangun dan membentuk kepribadian anak. Baik buruknya akhlak anak di masa dewasa sangat ditentukan pendidikan dalam keluarga. Wallahu a’lamu bis shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: