Marhaban ya Ramadhan

“Ya Allah, Berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah (usia) kami ke bulan Ramadhan” (HR An-Nasai, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Sudah selayaknya setiap Muslim merasa gembira dan bahagia dengan akan hadirnya bulan Ramadhan, karena Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, rahmat dan ampunan. Ramadhan adalah bulan yang agung, bulan di-ijabah-nya doa, bulan diterimanya ketaatan, dan berbagai keutamaan lainnya. Rasulullah SAW berdoa kepada Allah agar usianya bisa disampaikan menemui bulan Ramadhan, sebagaimana dalam hadits yang telah disebutkan di atas.

Jika kita memperhatikan hadits tersebut, maka ada beberapa hal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran :

Pertama, tarhib. Tarhib yaitu penyambutan dengan penuh suka cita terhadap bulan Ramadhan. Rasulullah saw melakukan ini semenjak bulan Rajab. Ini menunjukan betapa rindu dan bahagianya Rasulullah SAW terhadap akan datangnya bulan ini. Mengapa demikian? Karena beliau mengetahui keutamaan-keutamaan yang terkandung di dalamnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Thabrani, Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah dengan selamat dating kepadanya. Telah dating bulan puasa membawa segala rupa keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang agung itu.”

Bagi kita sebagai Muslim, untuk membuktikan kegembiraan tersebut tentu saja bukan dengan berhura-hura, memainkan petasan yang dapat mengganggu orang lain, atau perbuatan lain yang tidak ada manfaatnya. Tetapi, dengan persiapan-persiapan yang mendukung agar ibadah di bulan tersebut menjadi optimal. Yang harus kita persiapkan di antaranya persiapan ilmu dan fisik. Persiapan ilmu sangat penting sebab jika suatu amalan yang dilakukan tanpa ada dasar ilmunya, maka amal tersebut akan ditolak atau tidak diterima. Dengan demikian ilmu tentang ibadah puasa dan hal-hal yang berkaitan dengan puasa seharusnya kita pelajari lagi jauh-jauh hari sebelum Ramadhan itu tiba. Persiapan fisik sangat penting sebab di bulan Ramadhan kebiasaan aktivitas keseharian kita akan mengalami perubahan, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali adalah rangkaian aktivitas yang tidak terlepas dari aktivitas yang memerlukan kebugaran fisik dan mental.

Kedua, dalam hadits tersebut disebutkan tiga rangkaian bulan, yakni Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan. Hal ini memberikan pengertian kepada kita bahwa Rajab, Sya’ban dan Ramadhan adalah satu paket “Training Center” untuk berlatih memperbaiki diri agar kita menjadi insan bertakwa. Dengan demikian, bersiaplah dan berlatihlah untuk menghadapi bulan yang penuh kemuliaan itu.

Ketiga, Rasulullah SAW memberikan pembelajaran kepada kita agar memohon kepada Allah supaya diberi keberkahan dalam hidup. Berkah artinya bertambahnya kebaikan, artinya kita memohon dan meminta agar di dalam bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan kita diberikan kekuatan dan kemampuhan oleh Allah sehingga dapat melakukan berbagai amal kebaikan sebagai bekal kepulangan kita untuk berjumpa dengan-Nya.

Keempat, kita tidak mengetahui batas usia kita (ajal). Dalam doa tersebut Rasulullah SAW memberikan pengajarannya kepada kita bahwa beliau pun tidak mengetahui apakah akan sampai bertemu dengan ramadhan atau tidak. Rasulullah saja tidak mengetahui batas usianya, apalagi kita. Karena ajal adalah rahasia Ilahi yang hanya diketahui oleh-Nya. Dalam Al-Quran Surat Luqman Ayat 34, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya hanya disisi Allah ilmu tentang hari kiamat, dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dengan demikian, berharaplah kepada Allah dengan memanjatkan doa agar kita dapat berjumpa lagi dengan bulan yang penuh dengan kemuliaan tersebut. Apabila Allah menakdirkan kita berjumpa kembali dengan Ramadhan pada tahun ini, maka tidak layak kita menyia-nyiakannya, karena tidak ada jaminan kita dapat berjumpa lagi dengan Ramadhan di tahun yang akan dating.

Sebagai renungan saja, lihatlah saudara-saudara kita yang kini telah tiada dan tidak bisa menikmati indahnya Ramadhan tahun ini. Padahal, di bulan Ramadhan yang lalu mereka hidup bersama kita. Bagaimana dengan kita?

One Response

  1. terima kasih sharing info/ilmunya…
    selamat Berpuasa… semoga segala ibadah kita diterima oleh Allah SWT, amin…

    mengapa kita masih didera malas beribadah, baik mahdhah maupun ghayru mahdhah…? untuk itu saya membuat tulisan tentang
    “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”

    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: