Al Biruni (Tamat)

Hukum Al-Mas’udi

Tahun 1030 Masehi, Sultan Mahmud Al-Ghaznawi wafat. Ia meninggalkan untuk ananknya, Sultan Mas’ud, Negara yang luas, yang mencakup Afghanistan, Persi, Khawarizmi, Zayarin dan India Utara. Negara yang membentang seribu mil dari utara ke selatan dan melebar seribu mil dari barat ke timur.

Sultan Mas’udi kebalikan dari ayahnya, adalah tokoh yang toleran terhadap pecinta ilmu dan menghargai para ilmuwan. Ia adalah sahabat karib Al-Biruni, semenjak bertemu dengannya di Ghaznah 12 tahun yang silam. Kondisi Negara Al-Ghaznawiyah sudah stabil. Sultan yang baru mengizinkan Al-Biruni untuk menengok tanah airnya yang pertama di Khawarizmi.

Al-Biruni kemballi setelah setiap kunjungan ke Ghaznah, sebab ia menetap di situ sampai akhir hayatnya.

Dalam perlindungan Sultan Mas’udi, Al-Biruni menyelesaikan bukunya yang amat berharga tentang ilmu perbintangan, matematika, dan geografi: “Al-Qanun fi’Ulumi Al-Haiati Wal-Nujumi”, (Hukum Tentang Organologi dan Nujum), yang mencatat di dalamnya prinsip-prinsip ilmu falak dan ilmu penanggalan matematika yang membahas sejarah penanggalan dari berbagai bangsa, dan cara pemindahannya dari yang satu ke yang lain.

Dalam buku ini Al-Biruni membuktikan bahwa bumi bulat, planet dan bintang bulat, baik yang tidak bergerak maupun yang bergerak, baru berputar mengelilingi matahari dan bulan berdasarkan garis edarnya mengelilingi bumi. Pembuktian-pembuktiannya ini hampir enam abad mendahului pembuktian yang dilakukan oleh ilmuwan barat. Ia mendahului para astronom di dunia, alam menemukan gerakan poros bumi yang berputar condong, dan gerakan peredaran bumi mengelilingi matahari dalam satu tahun. Ia mengemukakan konsep kekuatan grafitasi bumi, yang merupakan satu bukti bahwa bumi berputar pada porosnya.

Dalam “Al-Qanun’, Al-Biruni membuktikan bahwa bintang bergerak mengelilingi poros rasi bintang. Ia menentukan letak 1024 bintang; ia meletakkan secara cermat masing-masing bintang itu pada galaksinya, dalam peta-peta astronomi kelangitan. Ia menjelaskan secara matematis akan gerakan planet-planet. Ia menghubungkan gerakan planet-planet itu dengan gerakan bumi di sekitar matahari, dan batas akhir lingkaran bumi. Ia mengukur jumlah hari dalam setahun, memperkenalkan musim-musim yang dilalui dalam setahun, pergantian musim dan ia menentukan waktu-waktu terjadinya musim ini.

Al-Biruni menciptakan hukumnya yang terkenal dengan namanya untuk mengetahui diameter bumi dan panjang garis lingkarnya dalam garis bujur Nandara di India, sejauh seratus kilometer dari kota Islamabad (ibukota Pakistan sekarang). Perbedaan yang ditentukan oleh Al-Biruni untuk setengah diameter bumi melalui hukum matematika, hanya lebih sedikit dari empat belas kilometer. Inilah hukum yang sekarang dipelajari di sekolah, dalam mata pelajaran geografi, di sekolah-sekolah menengah.

Al-Biruni menciptakan metode matematika yang baru untuk menentukan empat arah mata angin, dimana pun juga manusia berada di bumi, di darat, maupun di laut. Al-Biruni menguraikan dengan penjelasan dan gambaran tentang gerhana matahari, bulan, halimun dan factor-faktor yang menyebabkan munculnya fajar sebelum matahri terbit. Ia menemukan bahwa noktah jarak matahari dari bumi bergerak satu derajad dalam setiap 250 tahun.

Dalam buku “Al-Qanunnya”, Al-Biruni membicarakan lebih dari enam ratus Negara dan tempat. Ia meluruskan letak daerah-daerah di atas garis bujur, dengan bertumpu pada waktu terjadinya gerhana bulan di tempat yang tidak dikenal dan ujung dari garis bentangan yang dikenal. Ia juga bertumpu pada waktu kulminasi di setiap negara untuk menentukan garis lintang. Ia mengetahui dari pebedaan-perbedaan pada waktu gerhana dan kulminasi, jarak antara dua negara. Disamping itu, ia juga membahas maslah kondisi dan keadaan tanah, yang demikian berarti ia meletakkan dasar ilmu geodesi.

Dalam “Al-Qanun”, Al-Biruni menyajikan daftar-daftar matematika, yang mempergunakan segitiga sama kaki, dibuat dari lempengan yang panjang yang dilakukan dengan bentuk geometris secara teratur (simetris). Ia amat menderita karena sedih, itu masih ditambah lagi dengan penyakit-penyakit yang biasa diderita oleh para ilmuwan yang berusia di atas lima puluh tahun, semisal penyakit colon, pendengaran tergangu, dan lemah penglihatan. Al-Biruni mengurung diri di rumahnya selama 9 tahun, untuk berkonsentrasi melakukan kajian ilmiah dan mendiktekan sejumlah bukunya kepada murid-muridnya.

Bapak Farmasi

Di rumahnya di Ghaznah, Al-Biruni mendiktekan bukunya, “Ad-Dustur” (Prinsip Kedokteran} dan “Ash-Shaiddalat Fith-Thib” (Peran Farmasi dalam Kedokteran) setelah pandangannya kabur karena terlalu sering meneropong matahari pada waktu kulminasi.

Dalam buku “Ash-Shaiddalah”, Al-Biruni mambahas materi kedokteran dengan menganut sistematika yang dikembangkan oleh dokter Romawi, diyoschorides, dokter Raja Nero pada abad pertama Masehi. Diyoschorides mencatat 600 tumbuhan obat, yang oleh Al-Biruni ditambah lima kali lipat. Berkat menguasai pengetahuan tentang bahasa, adapt, dan tradisi, disamping karena belajar ilmu tumbuh-tumbuhan kepada seorang ilmuwan Yunani, maka Al-Biruni berhasil mengoreksi nama tumbuh-tumbuhan parmakop. Disusun secara ensiklopedis dengan nama-nama Arab, diberikan juga sinonimnya dalam bahasa-bahasa lain. Disamping itu juga dijelaskan secara teliti, dengan minta bantuan kepada ahli tumbuhan dan kedokteran yang ternama. Ia membicarakan tentang kekhususan medis dari tumbuh-tumbuhan itu, diantara yang dikajinya adalah teh Cina. Tanaman obat bius yang amat beracun, kekhususannya sebagai obat penenang dan tumbuhan menjalar yang menghasilkan buah, dan biji-biji merah, yaitu tumbuhan yang manis dan pahit yang berfungsi menyembuhkan penyakit telinga dan gigi. Juga jamur-jamur yang bisa dimakan setelah dimasak dan resep obat-obatan nabati akan dapat mengobati suatu penyakit. Dengan karyanya dalam ilmu farmasi, Al-Biruni melampaui prestasi dokter Abi Bakar Ar-Razi.

Ilmuwan yang Abadi

Al-Biruni hidup dalam suasana ilmiah yang produktif yang berlangsung hampir lima puluh tahun. Ia menulis delapan karya besar dalam ilmu astronomi, disamping buku-buku lain dalam bidang botani, geografi, farmasi, dan sejarah. Seratus sebelas karya ilmiah dalam bidang observatorium, ukuran waktu, geodesi, ilmu hitung, geometri, trigonometri, meteorologi, logam, dan permata, sejarah, agama, filsafat, dan kepercayaan. Plus enam belas buku tentang kesustraan yang menguraikan puisi dan methologi India dan Persia. Karya-karya sastra Al-Biruni, pada umumnya sudah hilang. Yang tersisa hanyalah kutipan-kutipan yang dinukil kedalam buku-buku lain.

Al-Biruni adalah ilmuwan ensiklopedis. Ia memberikan andil yang sangat besar dalam sejumlah bidang spesialisasi ilmu pengetahuan, yang pada umumnya pendapat-pendapatnya bersifat orisinal, khususnya dalam bidang astronomi, matematika, kedokteran, geografi, dan astronomi matematika. Karena produktifitas Al-Biruni amat menonjol dan terdepan pada masanya berkat penemuan-penemuan yang enam abad kemudian baru dikemukakan oleh ilmuwan-ilmuwan pada masa Renaissance Eropa, maka ahli sejarah dunia Barat kagum terhadap produktifitas dan kejeniusan Al-biruni ini. Oleh sebab itu, George Sarton, Carlo Nallino, Mayerhov, Arter Ibhem Bob dan Schacht menilai Al-Biruni sebagai berikut: Abad XI Masehi merupakan abad Al-Biruni. Ia adalah tokoh dan ilmuwan Islam terbesar. Astronom yang paling cerdas dan paling luas ilmunya. Namanya adalah nama yang paling menonjol dari sederetan nama ilmuwan terbesar dunia. Al-Biruni harus ditempatkan pada posisi yang terhormat. Ia termasuk salah seorang pemikir yang paling menonjol sepanjang masa. Kejeniusan Al-Biruni, tak obahnya dengan otak-otak besar, berciri universal, tidak terikat oleh waktu. Tanpa Al-Biruni, tidak mungkin penulisan sejarah, matematika astronomi, geografi, ilmu-ilmu humaniora atau perbandingan agama, bisa lengkap. Sebab, apa yang ditulis oleh Al-Biruni, sejak 1000 tahun yang silam, mendahului sejumlah metode dan aksiomatika yang dikatakan modern.

Keberanian berfikir Al-Biruni, kecintaannya untuk melakukan kajian ilmiah dan mencari kebenaran; secara metologis, toleransi dan ikhlas untuk beramal, merupakan sifat-sifat yang menjadikan Al-Biruni sebagai seorang jenius yang mempunyai pandangan universal dan aktif.

Itulah keabadian yang didambakan oleh seorang ilmuwan. Sehingga ia tetap hidup malalui andil ilmiah atau profesionalisme dalam ingatan generasi-generasi berikutnya.

(Tamat)

Sumber : Diambil dari buku “AL BIRUNI” karangan Sulaiman Fayyadh

One Response

  1. Thank you for sharing the information. I found the details very helpful.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: