Al Biruni (Bagian 5)

Pengembaraan ke India

India adalah suatu negeri di Benua Asia. Keadaannya penuh dengan simpanan budaya. Banyak pakar meminati negeri ini untuk dijadikan ajang penelitian. Baik falsafahnya, seni, bahasa, dan gaya hidup masyarakatnya. Al-Biruni termasuk orang yang sejak awal melirik India sebagai bahan tulisan ilmiahnya. Semuanya terasa lengkap ia tuturkan. Buku itu pun siap menjadi bahan acuan.

Sampailah waktu yang sangat ditunggu-tunggu Al-Biruni, ketika Sultan MAhmud memanggilnya ke kota Ghaznah.

“Wahai Biruni,” titah Sultan Mahmud, “kau temani kami dalam perluasan ke India!” demikian awal pembicaraan antara Sultan dengan Al-Biruni. Duhai, Sultan itu tak lagi ingat akan sikapnya semula.

“Catatlah untuk informasi kami apa saja yang belum diketahui orang islam mengenai India; baik sejarah, negeri, peradaban, kepercayaan, Adat, keadaan geografis, sungai, dan gunung-gunungnya. Sebab dakwah Islam tidak akan sampai menyebar ke India dan mustahil diterima masyarakatnya kecuali berbekal pengetahuan tentang itu semua!” instruksinya lagi.

Sultan Mahmud benar-benar melaksanakan kehendak untuk memperluas pengaruhnya sampai ke India. Sementara Al-Biruni dengan kerja yang ia persiapkan mengamati berbagai sudut dan gejolak kehidupan masyarakat India. Ia menyaksikan Sultan Mahmud menjelajah negeri itu hingga lembah King Kashmir dan Jazirah Katyawa. Ia menyaksikan pula bagaimana sang Sultan menghancurkan patung besar yang terletak di Candi Simanat. Pecahan patung itu benar-benar dihancurkan sehingga tak berbekas lagi, agar tidak menjadi sesembahan penduduk. Itu terjadi pada tahun 1020M.

Bersama Sultan ia singgah di daerah Punjab dan Kashmir selama tujuh tahun. Selama tinggal di India, Al-Biruni tiada henti siang dan malam membaca segala informasi tentang India. Buku-buku semua dilahap walau menggunakan bahasa Sansekerta yang demikian sulit. Ia bergaul dengan ulama dan orang-orang Hindu; mendiskusikan kepercayaan mereka, menyinggung pula masalah pensucian sapi dan larangan menyembelih binatang keramat itu. Sampai pula Al-Biruni mengadakan kritik-kritik yang diperlukan kepada para ilmuwan India yang salah secara ilmiah tentang ilmu-ilmu perbintangannya. Demi ilmu, ia pun bersedia menterjemahkan segala pengetahuan orang-orang Yunani dan Islam untuk para ilmuwan India.

Tiga belas tahun Al-Biruni berada di India. Hingga ia dapat menyelami nafas-nafas kehidupan dan renik-renik kebudayaan serta ilmu yang berkembang di sana. Kepada para ilmuwan India, ia memperkenalkan segala yang pernah ia dapat. Metode dalam mengkaji filsafat dan matematika dari orang-orang Yunani dan Islam, ia perkenalkan. Para ilmuwan India akhirnya mendapat kemajuan-kemajuan baru atas persembahan Al-Biruni tersebut.

Sebagaimana kebiasaannya di semua tempat, pengetahuan astronomi tak pernah ia istirahatkan dengan sia-sia. Melalui teropong bintang yang merupakan tekhnologi canggih ketika itu, dan kemudian menadi dasar perkembangan dan kesempurnaan teropong yang sekarang ini, ia menentukan garis bujur dan lintang pada sebelas kota di India yang sempat ia kunjungi. jiwaAl-Biruni adalah pengelana. Namun tentu kegiatan itu untuk tujuan ilmu pengetahuan. Enam puluh lima kota sudah ia kunjungi tetapi baru sebelas kota yang sempat ia tentukan garis lintang dan bujurnya secara geografis. Ketika tinggal dibenteng Nandana, ilmuwan dari kota Birun ini berhasil mengetahui diameter dan garis lintang bumi, dengan memanfaatkan tempat jatuhnya bayang-bayang gunung. Ia memakai perhitungan diametri untuk urusan ini. Tempat-tempat yang ia kunjungi tersebut merupakan tempat Iskandar Yang Agung dari Iskandar Akbar Al-Macedonia, mengalahkan pasukan raja India bernama Yurus. Ketika itu Raja Yurus membawa demikian besar pasukan gajah. Tetapi berhasil dipatahkan oleh Iskandar Yang Agung.

Kita mengenal Al-Biruni sampai di sini. Dan yang kita dapatkan selalu adalah ketekunannya membuat garis lintang dan bujur pada tiap wilayah yang ia singgahi. Sehingga pengetahuan astronomi atau ilmu falak atau ilmu perbintangannya benar-benar semakin meningkat dan berbobot. Ia bekerja lalu menulis, demikian senantiasa. Begitu pula ketika mengadakan pengembangan ke India. Sejumlah buku ia tulis mengenai berbagai masalah. Tidak terbatas pada ilmu eksakta tetapi juga mengenai ilmu kehidupan atau kebudayaan. Akhir dari petualangannya di India ia menuliskan buku yang sangat berbobot berjudul “Tahqiqu Malil-Hindi Min Maqalatu Mabulatu Fil ‘Aqli Au Mardulah”. Dalam bahasa kita dapat kita terjemahkan “Tahqiq Tentang India, Karya-karya yang Rasional dan Tak Rasional”. Buku ini menghimpun informasi tentang India secara lengkap. Dan menjadi pengetahuan baru bagi orang-orang Islam di jaman Al-Biruni. Kalau begitu, masih actual sampai sekarang bagi peradaban Barat modern sampai tahun-tahun terakhir abad kesembilan belas. Kelanggengan tema atau isi buku yang ia tulis ini karena merupakan suatu studi kritis sejarah tentang peradaban India. Ia persiapkan menuliskannya dalam waktu yang sangat lama, sekitar sepuluh tahun dan selesai pada saat kebetulan Sultan Mahmud wafat. Karya gemilang kebudayaan India dari Al-Biruni tersebut pernah diterjemahkan pada masa Renaissance Eropa ke dalam berbagi bahasa Eropa. Hingga para pakar geografi dan ahli sejarah Eropa mengenalnya dengan judul “Sejarah India”.

Dalam masa pengembaraannya ke India ini pula Al-Biruni menterjemahkan dunia angka-angka perhitungan kuno dari bahasa India ke bahasa Arab. Tulisan yang telah mengalami modifikasi dan perkembangan baru tersebut adalah yang sekarang dipakai di beberapa Negara Afrika, penjuru Eropa, Amerika, dan Asia. Kini mereka menyebutnya sebagai angka Arab berkat tangan Biruni mengalihkannya ke dalam modifikasi Arab. Eropa baru mengenal tulisan ini dari orang-orang Arab, setelah dua abad kematian Al-Biruni. Sejak saat itu hingga sekarang, angka-angka temuan baru tersebut menjadi tonggak penulisan sudut geometri.

Sungguh tiada habis-habisnya segala renik kehidupan yang dapat digeluti. Setiap saat nampaknya memberi kesempatan kepada Al-Biruni untuk membuat sesuatu kemajuan. Sebagaimana negeri India, baginya memberi kesempatan untuk pertama kali membahas, menelaah, dan mengkaji sejarah metematika di kalangan bangsa Arab dan India. Dunia selayaknya mengucapkan terima kasih kepada pakar Islam dari kota Birun yang dulu sering dipanggil Abu Raihan. Sebab tanpa kerja keras yang sekian tahun ia lakukan, dunia akan kehilangan informasi sejarah suatu peradaban dan ilmu pengetahuan yang demikian agung. Tanpa karya Al-Biruni, niscaya suatu sejarah akan sirna selamanya. Karena itu bagi bangsa India, nama Al-Biruni tak asing lagi. Bahkan nama Sungai Anjara di sana adalah berkat kenangan mereka kepada nama Abu Raihan sebagai kenangan dan penghormatan yang diberikan kepada ilmuwan tersebut.

Sejumlah buku terjemahan dari India yang memakai bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Arab telah menjadi literatur banyak orang. Demikian pun dari bahasa Arab ke dalam bahasa Sansekerta. Dengan demikian, Al-Biruni telah menghubungkan antara peradaban dan ilmu pengetahuan masyarakat Hindu dengan masyarakat Islam.

Penjelajahan ilmiah Al-Biruni adalah saat-saat ia mengikuti perluasan Sultan Mahmud sampai ke negeri India, yang membuka daerah Waihind, Maltan, dan Bahatanda, bahkan sampai tiga ratus mil ke arah timur Sungai Hindus. Semula dalam awal-awalnya, Al-Biruni tak diacuhkan oleh sang Sultan, namun ketika melihat peran yang dapat dimainkan oleh Al-Biruni, kesertaannya kemudian sangat dibutuhkan.

Matahari Selalu Bersinar

Gejala alam dari Allah menampakkan beraneka ragam kejadian. Dan para ilmuwan terus mempelajaridan mendiskusikan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Biruni dan kelompok-kelompok ilmuwan dari belahan dunia lain. Pada gilirannya, ilmuwan-ilmuwan tersebut memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat berarti. Bahkan ucapan dan pendapat mereka sangat menentukan tindakan sultan ketika itu. Sebagaimana kejadian berikut ini.

Suatu ketika, pada tahun 1024 M, Sultan Mahmud kedatangan serombongan utusan dari Sultan Turki Al-Valqa. Mereka diterima di kota besar Ghaznah. Orang-orang Turki adalah masyarakat yang memiliki hubungan dagang dengan penduduk perbatasan Kutub Utara dengan berlandaskan pada prinsip tukar menukar barang. Oleh sebab itu mereka memperoleh suatu pengalaman yang luar biasa atas kejadian alam yang terjadi di daerah Kutub. Saat mereka dating kepada Sultan, mereka menuturkan apa yang pernah disaksikannya.

“Wahai yang mulia. Pada ujung utara bumi, kami menyaksikan matahari terus menerus bersinar. Di situ, matahari hampir tak pernah terbenam,melainkan selalu terbit dari tempatnya terbenam. Sehingga beberapa bulan berturut-turut, matahari tak pernah memancarkan sinarnya. Terjadilah siang setengah tahun dan malam setengah tahun” tutur ketua rombongan.

Kabar ini begitu aneh terdengar telinga. Karena itu, Sultan sempat marah-marah dan menuduh.Ini adalah pendapat kafir dan atheis. Marah Sultan. Benarlah bahwa bagi orang yang awam dari ilmu pengetahuan, kejadian yang beraneka dari Allah, tidaklah mudah diterima. Sebab itu kerja dan pengamatan para ilmuwan sangat berarti untuk membuka alam pikiran dan rasio manusia di dalam memahami keagungan ciptaan Ilahi.

Jika kalian tidak mencabut kebohongan sekarang juga, kalian akan saya penjarakan!,” ancam Sulatan Mahmud.

Tampil kedepan untuk meredakan situasi panas seorang pakar bernama Abu Nash bin Misykan. Ia menjelaskan kehadapan Sultan.

“Wahai yang mulia, ketua rombongan ini tidak mengatakan pendapatnya, melainkan tengah menuturkan kenyataan yang sebenarnya.”

Sultan masih menampakkan kegarangannya. Ia merasa janggal atas kabar yang disampaikan oleh para utusan dari Turki. Tetapi ilmuwan yang menyertai rombongan tersebut tidak putus asa dalam menjelaskan.

“Yang mulia, kami berpendapat bahwa untuk masalah ini, para ilmuwan harus membahasnya secara ilmiah sehingga dapat menjelaskan berdasarkan kebenaran yang terjadi.”

Sikap Sultan agak reda. Ia mulai mencerna kata-kata Abu Nash bin Misykan. Kemudian meminta pendapat kepada Al-Biruni yang ketika itu turut pula hadir menyambut serombongan utusan dari Sultan Turki.

“Apa pendapatmu, wahai Biruni?” dengan suara mantap penuh keyakinan karena dijiwai oleh pengetahuan yang luas membentang, Al-Biruni mengutarakan pendapatnya.

“Sultan Mahmud yang kami hormati, mereka tidaklah berdusta,” demikian Al-Biruni mengawali. Ia dengan sangat hati-hati meneruskan penjelasannya lagi,” dalam kitabullah, terdapat ayat yang membenarkan apa yang mereka saksikan tentang gejala matahari.

Allah SWT berfirman, yang artinya: “hingga apabila dia telah sampai ketempat terbit matahari (sebelah timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikannya bagi mereka sesuatu yamg melindunginya dari (cahaya) matahari itu.” (Al-Kahfi :90)

Demikianlah Tuanku, Kiranya dengan ayat tersebut gejala alam sebagaimana mereka tuturkan akan dapat dilacak dan dijelaskan secara geografis. Hal itu sebagaimana meletakkan bola yang kita umpamakan bumi dan kita putar di depan lampu.”

Teranglah pikiran Sultan. Amarah pun reda. Ia menjadi tahu bahwa begitu banyak gejala alam yang memang sengaja diciptakan Allah sebagai bukti keagungan-Nya. Dengan penjelasan ayat dan ilmu pengetahuan, semua kejadian dapat diterima rasio dan akal manusia.

Dada Sultan menjadi lapang dan lega. Ia kemudian dengan segala keramahan mau mendengarkan penuturan lebih lanjut dari tamu rombongannya; mengenai bentuk rumah orang-orang Kutub yang demikian unik, tentang rumah-rumah yang didirikan di Sungai Al-Vulqa, adat, kebiasaan dan tata kehidupan masyarakat Kutub Utara dan lain-lain. Secara lengkap semua itu mereka kabarkan sehingga menambah wawasan pengetahuan sang Sultan.

Al-Biruni senantiasa memanfaatkan kedatangan mereka untuk memperoleh informasi baru. Juga para utusan yang dating dari Negara Cina. Disamping melalui perutusan resmi, informasi itu didapat juga melalui para pedagang dan pengembara yang dating dari semua penjuru dunia. Dengan penuh kecermatan dan ketekunan, Al-Biruni menghimpun semua kabar yang ia peroleh hingga dapat mengetahui secara geografis kondisi Negara Rusia, Siberia, Kutub Utara dan Timur. Kemudian semua pengetahuannya itu dihimpun dalam sebuah bukunya berjudul “ Al-Qanuh Fil Hai’ati Wan Nujum” atau “ Hukum Tentang Organ dan Nujum”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: